Puasa dan Diabetes: Jalan Mengejutkan Menuju Remisi

16

Selama lebih dari satu abad, gagasan bahwa puasa dapat secara efektif mengobati, bahkan membalikkan, diabetes tipe 2 telah beredar dalam literatur medis – jauh sebelum insulin tersedia secara luas. Saat ini, dengan lebih dari setengah miliar orang dewasa di seluruh dunia hidup dengan diabetes, dan proyeksi menunjukkan peningkatan sebesar 50% dalam satu generasi, pendekatan ini patut mendapat perhatian baru.

Preseden Sejarah: Dari Kelaparan ke Sains

Konsepnya bukanlah hal baru. Sejak awal abad ke-20, pembatasan kalori yang ketat – terkadang mendekati kelaparan – terbukti menghilangkan gejala diabetes dalam beberapa minggu. Perawatan “Era Allen” dari Dr. Allen, yang memprioritaskan penurunan berat badan ekstrem dan pembatasan lemak, terbukti sangat efektif dalam menghilangkan gula dari urin pasien hanya dalam sepuluh hari. Kuncinya? Penurunan berat badan yang berkelanjutan.

Namun, konteks sejarahnya sangat jelas. Metode awalnya sangat brutal – mulai dari “diet Rollo” berupa daging tengik dan muntah-muntah hingga tindakan putus asa selama pengepungan masa perang di mana orang dipaksa untuk “makan sesedikit mungkin”. Kondisi ekstrem ini, meskipun menunjukkan kekuatan pembatasan kalori, menyoroti sifat kelaparan murni yang tidak berkelanjutan.

Ilmu Pengetahuan di Balik Keracunan Lemak

Penelitian modern menegaskan prinsip yang mendasarinya: diabetes pada dasarnya adalah penyakit kelebihan lemak. Penelitian menunjukkan bahwa memasukkan lemak langsung ke pembuluh darah dengan cepat meningkatkan resistensi insulin, serupa dengan efek diet tinggi lemak. Lemak ini terakumulasi di sel hati, pankreas, dan otot, sehingga menciptakan lingkaran setan.

Sebaliknya, pembatasan kalori secara drastis – sekitar 700 kalori sehari – akan mengeluarkan lemak dari sel otot, memulihkan sensitivitas insulin dan mengurangi lemak hati dan pankreas. Inilah sebabnya menurunkan 15% berat badan dapat mencapai remisi pada hingga 90% dari mereka yang didiagnosis dengan diabetes tipe 2 dalam waktu kurang dari empat tahun. Semakin lama penyakit ini bertahan, semakin sulit pemulihannya, meskipun remisi tetap mungkin terjadi pada sekitar 50% dari mereka yang terdiagnosis lebih dari delapan tahun.

Penurunan Berat Badan vs. Pembedahan: Garpu Di Atas Pisau

Hebatnya, pendekatan sederhana ini – penurunan berat badan melalui pembatasan pola makan – tampaknya lebih efektif dibandingkan operasi bariatrik dalam mencapai remisi jangka panjang. Kehilangan berat badan sekitar 30 pon dapat membalikkan penyakit ini pada banyak orang dalam waktu tiga tahun setelah diagnosis, dengan tingkat remisi melebihi yang terlihat pada intervensi bedah.

Peringatan: Keberlanjutan adalah Kuncinya

Tantangannya tetap mempertahankan penurunan berat badan. Menambah berat badan hampir menjamin kembalinya diabetes. Penemuan insulin pada tahun 1921 merupakan penyelamat hidup penderita diabetes tipe 1, namun tidak menyelesaikan masalah mendasar diabetes tipe 2 yang disebabkan oleh gaya hidup. Bahkan pionir awal seperti Elliott Joslin menekankan bahwa pola makan dan olahraga, seperti yang dilakukan sebelum adanya insulin, tetap penting dalam penatalaksanaan yang efektif.

Kesimpulannya, meskipun puasa atau pembatasan kalori yang berlebihan bukanlah solusi yang ampuh, ilmu pengetahuannya jelas: diabetes tipe 2 sering kali dapat disembuhkan melalui penurunan berat badan yang berkelanjutan, sehingga intervensi pola makan menjadi strategi pengobatan yang ampuh dan berpotensi lebih unggul. Kuncinya bukan hanya menurunkan berat badan, namun juga mempertahankannya.