Selama berabad-abad, kekuatan secara budaya dianggap sebagai maskulin. Pusat kebugaran, media, dan bahkan seni sejarah memperkuat gagasan bahwa otot yang menonjol adalah milik laki-laki, sementara perempuan didorong ke arah cita-cita sempit kecil. Kebugaran bagi wanita secara historis dibingkai sebagai penurunan berat badan, bukan kekuatan.
Namun dinamika ini sedang berubah. Saat ini, perempuan tidak hanya mengikuti pelatihan kekuatan; mereka mendefinisikannya kembali. Pusat kebugaran dipenuhi perempuan yang melakukan olahraga beban lebih berat, dan media sosial mencerminkan semakin berkembangnya gerakan yang merayakan kekuatan, bukan sekadar estetika. Data Strava menunjukkan peningkatan sebesar 25% dalam olahraga angkat beban pada wanita, dengan hampir satu dari tiga wanita kini memprioritaskan kekuatan fisik pada tahun 2026.
Mengapa ini penting: Pergeseran ini bukan hanya tentang olahraga; ini tentang mendapatkan kembali hak pilihan dan menantang norma-norma budaya yang mengakar. Selama beberapa generasi, perempuan dikondisikan untuk takut terhadap hal-hal yang bersifat massal dan memprioritaskan tubuh yang ramping. Kini, mereka menyadari bahwa kekuatan tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga metabolik dan neurologis.
Penulis Bonnie Tsui, dalam bukunya On Muscle, menyoroti evolusi ini. Dia menunjuk pada Jan Todd, seorang pionir yang memecahkan rekor dalam mengangkat “batu kejantanan” yang secara tradisional bersifat maskulin, sebagai contoh bagaimana perempuan selalu mampu mendefinisikan kembali kekuatan. Tsui menjelaskan bahwa perempuan saat ini tidak menunggu izin. Mereka mengangkat beban lebih berat, makan lebih banyak, dan menempati ruang tanpa meminta maaf.
Ilmu di Balik Kekuatan
Otot bukan hanya tentang penampilan fisik. Ini adalah organ aktif secara metabolik yang mengatur gula darah, mengurangi peradangan, dan melindungi terhadap penurunan terkait usia. Para ahli sekarang menyebutnya sebagai “organ umur panjang” untuk alasan yang baik.
Saat Anda mengangkat beban, otot Anda melepaskan miokin—zat kimia yang berkomunikasi dengan otak, mengurangi peradangan, dan meningkatkan neuroplastisitas. Ini berarti latihan kekuatan tidak hanya membangun tubuh Anda; itu mempertajam pikiran Anda.
Manfaat utama:
– Kesehatan metabolisme: Otot meningkatkan sensitivitas insulin dan membantu mengatur berat badan.
– Fungsi kognitif: Latihan kekuatan dikaitkan dengan daya ingat yang lebih baik, kecepatan pemrosesan yang lebih cepat, dan penurunan risiko demensia.
– Umur Panjang: Massa otot merupakan faktor penting dalam menjaga kemandirian fisik seiring bertambahnya usia.
Pergeseran Budaya
Munculnya kekuatan perempuan bukan hanya sekedar anekdot. Atlet seperti bintang rugby Ilona Maher secara aktif membongkar stereotip yang sudah ketinggalan zaman. Dia mewujudkan gagasan bahwa kekuatan, feminitas, dan kecantikan dapat hidup berdampingan.
Tsui menekankan bahwa ini bukan tentang mencari cara tertentu; ini tentang kekuatan apa yang dimungkinkan. Otot memungkinkan wanita untuk hidup dengan lebih banyak energi, kepercayaan diri, dan ketahanan kognitif. Gerakan ini bertujuan untuk merebut kembali kekuasaan di dunia yang masih mencoba mendefinisikan perempuan berdasarkan penampilan mereka.
Intinya: Membangun otot kini merupakan tindakan pemberontakan yang diam-diam. Ini adalah keputusan untuk memprioritaskan kesehatan, umur panjang, dan penentuan nasib sendiri dibandingkan standar kecantikan yang sewenang-wenang. Ini bukan hanya tren kebugaran; ini adalah pengaturan ulang budaya.
