Perekonomian modern berjalan dengan cepat, dan berjalan dengan asumsi bahwa istirahat adalah pilihan pribadi dan bukan risiko sistemik. Kita memperlakukan tidur seperti sebuah kemewahan opsional, sebuah variabel yang dapat kita keluarkan dari jadwal kita tanpa konsekuensi. Pola pikir tersebut telah berdampak langsung pada logistik, sehingga menciptakan bahaya yang mempercepat jalan raya antar negara bagian setiap hari.
Pertimbangkan kontrak pengiriman bergaransi yang mendominasi industri pengangkutan. Operator menjanjikan pelanggan bahwa barang akan tiba pada tanggal tertentu. Ketepatan ini sangat berharga. Hal ini memungkinkan pengecer dan produsen untuk meminimalkan biaya pergudangan dengan menjaga tingkat inventaris sangat sedikit. Jika Anda tidak perlu menyimpan stok tambahan, Anda menghemat uang. Sistem ini bekerja dengan baik, asalkan truknya tiba.
Namun beban tenggat waktu tersebut ada pada pengemudi.
Tidak ada jalan tengah dalam kontrak ini. Jika muatan terlambat, hasil tangkapan tidak dibayar. Sanksi finansial atas keterlambatan pengiriman dapat menghapus pendapatan pengemudi selama berminggu-minggu. Hasilnya adalah struktur insentif yang buruk. Pengemudi merasa tertekan untuk terus bergerak, meski mata terasa berat. Mereka melupakan kelelahan karena alternatifnya adalah kemiskinan.
Data mengenai fenomena ini sangat jelas dan historis. Sebuah studi tahun 1988 yang dilakukan Departemen Keamanan Publik Arizona menemukan bahwa antara 42 dan 49 persen dari semua kecelakaan kendaraan komersial di negara bagian tersebut disebabkan oleh pengemudi yang mengantuk. Hampir setengahnya. Ini bukan penyok sepatbor kecil. Ini adalah tabrakan yang melibatkan rig besar yang membawa berton-ton barang.
Kami menerima pertukaran ini. Kami menerima bahwa rendahnya harga barang dan kenyamanan pengiriman keesokan harinya disubsidi oleh kesehatan dan kewaspadaan orang yang mengemudikannya. Ketika seorang pengemudi truk kelelahan, waktu reaksinya lambat. Disiplin jalur gagal. Penghakiman menjadi kabur. Kendaraannya sendiri tidak berubah, tapi operatornya yang berubah.
Ini bukan hanya tentang pilihan buruk individu. Ini tentang model bisnis yang memprioritaskan pengiriman tepat waktu dibandingkan batas manusia. Sebelum kita menyadari bahwa kecelakaan akibat kelelahan merupakan kegagalan struktural dan bukan sekedar nasib buruk, jalan raya akan tetap berbahaya. Anda berbagi jalan dengan seseorang yang mungkin sedang berjuang melawan biologi mereka sendiri, semuanya untuk memenuhi tenggat waktu yang tidak mereka tetapkan dan tidak boleh mereka lewatkan.
Pertanyaannya bukan apakah pengemudi lelah atau tidak. Pertanyaannya adalah apakah sistem yang menuntut habisnya mereka bisa berkelanjutan.
















