Binge Eating Disorder vs Overeating: Memisahkan Mitos dari Realitas Klinis

13

Ini adalah kelainan makan yang paling umum di Amerika. Ini juga salah satu yang paling banyak disalahpahami.

Stigmanya tebal. Orang-orang membayangkan wanita muda berkulit putih. Mereka menggambarkan kurangnya kemauan. Mereka menggambarkan kegagalan karakter. Asumsi ini salah. Dan mereka berbahaya. Gangguan makan berlebihan (BED) tidak membeda-bedakan berdasarkan usia, ras, jenis kelamin, atau ukuran tubuh. Hal ini memerlukan diagnosis dan perawatan profesional untuk mencegahnya merusak kesehatan fisik dan mental Anda dalam jangka panjang.

Perbedaan antara makan malam besar dan pesta klinis? Kehilangan kendali. Namun implikasinya jauh lebih kompleks dari sekadar “makan terlalu banyak”. Berikut delapan mitos terbesar tentang gangguan makan berlebihan, yang dibantah dengan fakta.

Mitos 1: Gangguan Makan Berlebihan Jarang Terjadi

Rasanya jarang karena kita tidak membicarakannya. Kesadaran masyarakat tertinggal dibandingkan gangguan makan lainnya. American Psychiatric Association bahkan tidak secara resmi mengakuinya sebagai diagnosis klinis yang berbeda hingga tahun 2013 (dalam DSM-5). Sebelumnya, penyakit ini sering disamakan dengan obesitas atau makan berlebihan secara umum.

Inilah kenyataannya: BED adalah gangguan makan yang paling umum terjadi di Amerika Serikat.

Sekitar 1,2% orang dewasa menderita BED. Bandingkan dengan anoreksia nervosa sebesar 0,6% dan bulimia nervosa sebesar 0,3%. Jumlahnya lebih tinggi dari perkiraan orang, namun kemungkinan besar jumlahnya masih di bawah angka tersebut. Mengapa? Malu. Orang-orang tidak membicarakan perjuangan mereka.

“Pesta makan berlebihan dapat menimbulkan efek psikologis seperti kecemasan dan masalah fisik termasuk penyakit jantung,” kata Jason Nagata, MD. Ia berspesialisasi dalam gangguan makan di UCSF. Konsekuensinya akan bertahan selama beberapa dekade.

Mitos 2: Binge Eating Sama dengan Makan Berlebihan

Anda mungkin makan berlebihan. Kalkun ucapan syukur. kue ulang tahun. Nenekmu bersikeras beberapa detik. Ini normal.

Pesta itu berbeda.

“Cynthia Bulik, PhD, membedakannya sebagai berikut: ‘Yang membedakan makan berlebihan dengan makan berlebihan adalah perasaan bahwa Anda tidak bisa berhenti begitu Anda memulainya.'”

Ini bukan hanya volume. Ini adalah volume ditambah perasaan tidak berdaya. Pesta makan biasanya melibatkan makan makanan dalam jumlah besar dalam jangka waktu tertentu. Pikirkan lebih dari satu kali makan lengkap. Beberapa makanan pembuka. Rangkaian makanan penutup. Makan tiga potong pizza padahal biasanya Anda makan dua potong berarti makan berlebihan. Makan satu pizza utuh sendirian karena Anda merasa harus melakukannya, meskipun sudah kenyang, adalah sebuah pesta mabuk-mabukan.

Dorongan itu bisa muncul ketika tidak ada makanan yang terlihat. Bulik, yang mengepalai Center of Excellence for Eating Disorders, mencatat bahwa pasien sering kali menghabiskan hari kerja mereka secara mental untuk merencanakan pesta makan berlebihan. Di mana harus berhenti? Apa yang harus dibeli? Mobil atau sofa?

Catatan: Makan berlebihan sesekali bukanlah suatu gangguan. Kriteria DSM-5 memerlukan episode setidaknya sekali seminggu selama tiga bulan.

Mitos 3: Anda Bisa Mengalahkan BED Hanya Dengan Tekad

Pandangan ini sudah ketinggalan jaman. Dan tidak adil.

“Selama beberapa dekade, kemauan keras mendominasi pembicaraan mengenai obesitas. Sekarang kita tahu bahwa pendekatan tersebut hanya menyalahkan korban,” kata Bulik.

Anggap saja seperti asma. Apakah Anda akan memberi tahu penderita asma untuk menggunakan lebih banyak kemauan untuk bernapas? Tidak. Anda akan mengobati kondisi tersebut.

BED disebabkan oleh interaksi kompleks antara biologi, psikologi, dan lingkungan. Kemauan saja tidak dapat memperbaiki pendorong neurobiologis dan psikologis. Perawatan yang efektif biasanya melibatkan:
* Psikoterapi (terapi bicara)
* Obat resep seperti lisdexamfetamine (Vyvanse)
* Konseling dengan ahli diet terdaftar

Mitos 4: TIDUR Hanya Terjadi pada Penderita Obesitas

Makan berlebihan secara kompulsif sering kali menyebabkan penambahan berat badan. Namun hal ini tidak hanya menimpa penderita obesitas saja.

Penelitian menunjukkan bahwa meskipun 88% penderita BED akan mengalami obesitas pada suatu saat dalam hidup mereka, sebagian besar tidak. Banyak yang berada dalam kategori berat badan lebih tinggi; banyak yang memiliki berat rata-rata; banyak yang kekurangan berat badan.

“Pesta makan tidak peduli berapa ukuran tubuhmu,” kata Nagata. Gangguan ini tidak bergantung pada indeks massa tubuh. Dengan asumsi penyakit ini hanya memengaruhi tubuh yang lebih berat akan menunda diagnosis bagi pasien yang lebih kurus dan juga membutuhkan bantuan segera.

Mitos 5: Diet Adalah Obatnya (Seringkali Menjadi Pemicunya)

Bagi sebagian orang, diet memicu BED.

Pembatasan makan dan penghitungan kalori dapat menyebabkan perasaan kekurangan yang intens. Ini memfokuskan pikiran pada makanan. Pembatasan ini sering kali menjadi bumerang, sehingga menyebabkan lebih banyak episode pesta mabuk-mabukan. Hal ini menciptakan lingkaran setan. Diet menyebabkan makan sebanyak-banyaknya, yang menyebabkan rasa bersalah, yang menyebabkan lebih banyak pembatasan.

Perawatan standar tidak berfokus pada penurunan berat badan. Mereka fokus pada menstabilkan pola makan, mengatasi akar psikologis dari gangguan ini, dan mengelola risiko medis melalui terapi dan pengobatan.

Mitos 6: Hanya Orang Dewasa yang Mengalami Gangguan Makan Berlebihan

Usia rata-rata timbulnya penyakit ini adalah 21 tahun. Separuh pasien mengalami penyakit ini sebelum usia tersebut.

Namun anak-anak dan remaja juga terkena dampaknya. Tim Nagata mempelajari lebih dari 10.000 remaja AS berusia 9 hingga 14 tahun. 6,6% melaporkan perilaku mirip BED. 1,7% menerima diagnosis BED dalam waktu dua tahun. Penelitian lain terhadap anak-anak berusia 10 dan 11 tahun menemukan 1,1% memenuhi kriteria BED penuh.

Pengakuan sulit dilakukan oleh kaum muda. Mereka mungkin tidak mempunyai kosakata untuk menggambarkan “kehilangan kendali”.

Para orang tua, perhatikan tanda-tandanya:
* Makanan hilang
* Pembungkusnya disembunyikan di tempat sampah
* Disimpan di tempat yang tidak biasa seperti meja samping tempat tidur atau di bawah meja

Mitos 7: TIDUR Hanya Mengidap Wanita

Ada stereotip bahwa kelainan makan adalah “penyakit wanita”. Sekitar 1 dari 3 penderita gangguan makan adalah laki-laki.

Di AS, sekitar 0,8% pria menderita BED.

Karena stereotip tersebut, laki-laki cenderung tidak mencari bantuan. Mereka mungkin tidak mengenali gejalanya sendiri. Mereka mungkin memandang perjuangan tersebut sebagai kegagalan maskulin. Keheningan ini meningkatkan risiko masalah kesehatan kronis dan tekanan psikologis yang tidak diobati.

Mitos 8: Ini Hanya Masalah Gaya Hidup

BED adalah kondisi medis yang diakui. Ini bukanlah sebuah pilihan. Ini bukanlah kegagalan moral. Ini adalah masalah kesehatan yang kompleks dengan konsekuensi fisik dan mental yang serius.

Mengabaikannya menyebabkan kecemasan, depresi, penambahan berat badan, diabetes, dan penyakit jantung. Mengobatinya mengarah pada pemulihan.

Jika Anda mengenali pola-pola ini dalam diri Anda atau seseorang yang Anda sayangi, hubungi profesional. BED dapat diobati. Namun pertama-tama, Anda harus yakin bahwa mitos tersebut salah.